Apakah Itu Oli.
Pelumas adalah zat
kimia, yang umumnya cairan,
yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek.
Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi yang memiliki suhu 105-135
derajat celcius. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan
dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah
satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin
yang dipakai pada mesin pembakaran dalam.
A. Fungsi dan tujuan pelumasan
Pada berbagai jenis mesin dan
peralatan yang sedang bergerak, akan terjadi peristiwa pergesekan antara logam.
Oleh karena itu akan terjadi peristiwa pelepasan partikel partikel dari
pergesekan tersebut. Keadaan dimana logam melepaskan partikel disebut aus atau
keausan. Untuk mencegah atau mengurangi keausan yang lebih parah yaitu
memperlancar kerja mesin dan memperpanjang usia dari mesin dan peralatan itu
sendiri, maka bagian bagian logam dan peralatan yang mengalami gesekan tersebut
diberi perlindungan ekstra.
1. Tugas pokok pelumas
Pada dasarnya
yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan
sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan
permukaan logam lain terus menerus bergerak. Selain keausan dapat dikurangi,
permukaan logam yang terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang diperlukan
akibat terserap gesekan, dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan
berkurang.
2. Tugas tambahan pelumas
Selain mempunyai tugas pokok,
pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas. Pada mesin mesin dengan
kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan bantalan sebagai
akibat dari adanya gesekan yang banyak. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai
penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu
mesin.
1.
Suhu yang tinggi akan merusak daya lumas. Apabila daya
lumas berkurang, maka maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang
timbul akan semakin banyak sehingga suhu terus bertambah. Akibatnya pada
bantalan bantalan tersebut akan terjadi kemacetan yang secara otomatis mesin
akan berhenti secara mendadak. Oleh karena itu, mesin mesin dengan kecepatan tinggi
digunakan pelumas yang titik cairnya tinggi, sehingga walaupun pada suhu yang
tinggi pelumas tersebut tetap stabil dan dapat melakukan pelumasan dengan baik.
B. Jenis jenis pelumas
Terdapat berbagai jenis minyak
pelumas. Jenis jenis minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan
bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan.
1. Dilihat dari bentuk
fisiknya :
a. Minyak pelumas b. Gemuk
pelumas c. Cairan pelumas
2. Dilihat dari bahan
dasarnya :
a. Pelumas dari bahan nabati b.
Pelumas dari bahan hewani c. Pelumas sintetis
3. Dilihat dari
penggunaannya :
a. Pelumas kendaraan b. Pelumas
industri c. Pelumas perkapalan d. Pelumas penerbangan
4. Dilihat dari
pengaturannya :
i. Pelumas kendaraan
bermotor :
1. Minyak pelumas motor kendaraan
baik motor bensin / Diesel
2. Minyak pelumas untuk
transmisi
3. Automatic transmission fluid
& hydraulic fluid
ii. Pelumas motor diesel untuk
industri :
1. Motor diesel berputar cepat
2. Motor diesel berputar sedang
3. Motor diesel berputar lambat
iii. Pelumas untuk motor mesin 2
langkah :
1. Untuk kendaraan bermotor
2. Untuk perahu motor
3. Lain lain ( gergaji mesin,
mesin pemotong rumput )
iv. Pelumas khusus
Jenis pelumas ini banyak
ragamnya yang penggunaannya sangat spesifik untuk setiap jenis, di antaranya
adalah untuk senjata api, mesin mobil balap, peredam kejut, pelumas rem,
pelumas anti karat, dan lain-lain.
C. Penggunaan pelumas
Untuk memperoleh hasil yang
maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak diperlukan
adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan jenis
pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini untuk
mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat fatal.
1. Hal hal yang perlu diperhatikan :
a. Rekomendasi pabrik pembuat
mesin
Biasanya pabrik pembuat mesin
seperti pabrik kendaraan bermotor dan pabrik mesin mesin industri memberi
petunjuk jenis pelumas yang direkomendasikan untuk digunakan. Petunjuk ini
sangat terperinci sedemikian rupa bagi pelumasan masing masing bagian dalam
jangka waktu tertentu.
b. Bahan bakar yang digunakan
Dalam hal ini yang perlu
diperhatikan adalah bahwa pelumasan untuk mesin dengan bahan bakar bensin
berbeda dengan pelumasan untuk mesin berbahan bakar solar atau gas.Apabila
tidak ada ketentuan ukuran atau aturan penggunaan pelumas oleh pembuat mesin,
maka anjuran dalam penggunaan pelumas biasanya dilaksanakan oleh para teknisi
pabrik dengan melihat pada :
– Data teknis dari mesin –
Pengetahuan tentang pelumasan dari para teknisi – Pengalaman dari para teknisi
c. Perkembangan teknis pelumas
Hasil kemajuan yang dicapai di
bidang pelumas ini, pada dasarnya adalah hasil kerjasama antara pabrik pembuat
mesin, pembuat pelumas, dan pembuat bahan bahan tambahan ( additif ). Walaupun
terdapat beragam pelumas berkualitas tinggi, namun pada intinya yang menentukan
mutu dan daya guna suatu pelumas terdiri dari 3 faktor :
1. Bahan dasar ( based oil ). 2.
Teknik dan pengolahan bahan dasar dalam pembuatan pelumas. 3. Bahan bahan
additif yang digunakan atau dicampurkan kedalam bahan dasar untuk mengembangkan
sifat tertentu guna tujuan tertentu.
Sebenarnya base oil mempunyai
segala kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam pelumasan. Tanpa aditifpun,
sebenarnya minyak dasar sudah mampu menjalankan tugas-tugas pelumasan. Namun
unjuk kerjanya belum begitu sempurna dan tidak dapat digunakan dalam waktu
lama.
ISTILAH-ISTILAH PADA MINYAK PELUMAS
Istilah-istilah teknis tentang
minyak pelumas sering dianggap remeh, padahal dengan mengatahui istilah-istilah
yang ada pada pelumas, maka kita akan tahu persis baik tidaknya atau tepat
tidaknya penggunaan suatu pelumas :
1. Viscosity; adalah kekentalan
suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan bergerak atau daya tolak
suatu pelumas untuk mengalir. Pada temperatur normal, pelumas dengan viscosity
rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas dengan viscosity tinggi.
Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas dengan viscosity rendah
yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi operasi tinggi
dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi
2. Viscosity Index (Indeks
viskositas); merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas
ddikarenakan adanay perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka
akan semakin kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun
terjadi perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100,
sedang yang premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250.
3. Flash point; titik nyala
suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu pelumas dimana pada
kondisi temperatur tsb akan dikeluarkan uap air yang cukup untuk membentuk
campuran yang mudah terbakar dengan udara.
4. Fire point; adalah
menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan dan terus menyala
sekurang-kurangnya selama 5 detik.
5. Pour point; merupakan titik
tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti engalir dengan leluasa.
6. Cloud point; keadaan dimana
pada temperatur tertentu maka lilin yang larut di dalam minyak pelumas akan
mulai membeku..
7. Aniline point; merupakan
pentunjuk bahwa minyak pelumas tertentu sesuai sifat-sifatnya dengan
sifat-sifat karet yang digunakan sebagai seal dan slang. Hal ini ditetapkan
sebagai temperatur dimana volume yang sama atau seimbang dari minyak pelumas
adan aniline dapat dicampur
8. Neutralisation Number or
Acidity; merupakan ukuran dari alkali yang diperlukan untuk menetralisir suatu
minyak Makin tinggi angka netralissasi maka akan semakin banyak asam yang ada.
Minyak yang masih baru tidak mengandung asam bebas dan acidity numbernya dapat
kurang atau sama dengan 0,1. Sedangkan pelumas bekas, akan mengandung acidity
number yang lebih tinggi.
9. Apabila pelumas habis terbakar
maka akan terbentuk abu atau abu sulfat. Hal ini berhubungan dengan pengukuran
kemurnian suatu pelumas.
Standarisasi
Oli.
- SAE (Society of Automotive Engineers). SAE ini adalah range tingkat kekentalan suatu pelumas seperti contoh: AE 10w-40 ini menandakan produk ini range kinerja kekentalan pada keadaan dingin sampai panas adalah 10 sampai 40. Ada juga yang hanya menunjukan satu range/grade saja contoh SAE 20. kalo yang menggunakan range 2bh seperti SAE 20w-50 disebut oli multigrade. Kalo huruf w pada 10w adalah singkatan winter yang menunjukan tingkat kekentalan 10 bahkan pada saat winter. Ada juga produk yang tanpa ada simbol w , Misalnya SAE 20-50 , maka produk SAE 20w-50 lebih baik dari SAE 20-50 dilihat dari range kekentalan range suhu yg berbeda. semakin besar angka SAE berarti semakin kental produk tsb. Seperti SAE 10w-40 lebih encer dari SAE 20w-40AE 10w-40 ini menandakan produk ini range kinerja kekentalan pada keadaan dingin sampai panas adalah 10 sampai 40. Ada juga yang hanya menunjukan satu range/grade saja contoh SAE 20. kalo yang menggunakan range 2bh seperti SAE 20w-50 disebut oli multigrade. Kalo huruf w pada 10w adalah singkatan winter yang menunjukan tingkat kekentalan 10 bahkan pada saat winter. Ada juga produk yang tanpa ada simbol w , Misalnya SAE 20-50 , maka produk SAE 20w-50 lebih baik dari SAE 20-50 dilihat dari range kekentalan range suhu yg berbeda. semakin besar angka SAE berarti semakin kental produk tsb. Seperti SAE 10w-40 lebih encer dari SAE 20w-40
- API (American Petroleum Institute) adalah suatu grade yang didapat dari lembaga independent yang menetukan sejauh mana kualitas produk pelumas tersebut tentunya dengan seleksi yang ketat. Contoh : API SL. ini menunjukan produk tersebut ditujukan untuk mesin berbahan bakar bensin karena huruf S pada SL , singkatan dari spark (Busi) sedangkan untuk mesin diesel ditunjukan dengan huruf C (compression) seperti API CG dll. Sedangkan Huruf L pada SL menunjukan kualitas produk tsb. semakin mendekati huruf Z maka semakin baik produk tsb. Contoh produk API SL lebih baik secara kualitas dari produk API SF. Sampai saat ini grade tetinggi pada pelumas didunia adalah API SM. Dan perkembangan teknologi akan terus memicu peningkatkan kualitas grade API tsb. Tapi API bukan satu2nya lembaga yang mengeluarkan grade tsb. ada juga ILSAC (International Lubricants Standarization & Approval Commitee) seperti contoh ILSAC GF-2. Dan sampai saat ini yang tertinggi adalah ILSAC GF-4. Dan masih banyak lagi seperti JASO (Japan Automotive Standard Association) , ACEA (Association Des Constructeurs Europeens d' Automobiles), DIN (Deutsche Industrie Norm).
- ISO (International Standards
Organization), bermarkas di Eropa
Mengatur standar untuk banyak hal. Aq bahas yang standar untuk oli samping aja. Ada 3 spesifikasi:
ISO-L-EGB ---> memiliki persyaratan yang sama dg JASO FB
ISO-L-EGC ---> memiliki persyaratan yang sama dg JASO FC, di atas ISO-L-EGB
ISO-L-EGD ---> memiliki persyaratan yang sama dg JASO FD, di atas ISO-L-EGC
Berhubung standar ISO & JASO sama, maka untuk Ninja 150, oli samping yang dipersyaratkan oleh pabrik adlh minimal ISO-L-EGC. Dg kata lain klo bro mo pake oli samping dg spek ISO-L-EGD, silakan saja. - JASO (Japanese Automobile
Standards Organization), bermarkas di Jepang
JASO mengatur standar oli untuk mesin bensin 4 langkah, mesin diesel dan mesin bensin 2 langkah.
Mesin bensin 4
langkah
Ada 2
spesifikasi, yaitu MA dan MB dimana kualifikasi MB di atas MA.
Mesin bensin 2
langkah (oli samping)
Ada 4
spesifikasi:
- JASO FA ---> sudah tidak digunakan
- JASO FB ---> spesifikasi di atas FA
- JASO FC ---> spesifikasi di atas FB
- JASO FD ---> spesifikasi di atas FC
Mesin
bensin 4 langkah
Kodenya diawali dg
"S" (Spark). Saat ini msh ada 4 klasifikasi,
- SH ---> untuk mesin dg teknologi <1994, spesifikasi diatas SG
- SJ ---> untuk mesin teknologi 1996, spesifikasi di atas SH
- SL ---> untuk mesin teknologi 2001, spesifikasi di atas SJ
- SM ---> yang terbaru, bisa digunakan pada mesin yang menpersyaratkan pelumas dengan spesifikasi di bawahnya (SL/SJ/SH).
Mesin diesel
Kodenya diawali dg "C" (Carbon). yang
msh dipake adalah CF, CG, CH dan CI.
Mesin bensin 2 langkah (Oli samping)
Kodenya diawali dg "T". Ada 4 spesifikasi:
- API TA --> sudah tdk digunakan lagi
- API TB ---> spesifikasi di atas TA
- API TC ---> spesifikasi di atas TB
- API TD ---> spesifikasi di atas TC
Tentang Garde
- Monograde. Oli ini hanya memiliki 1 tingkat kekentalan pada semua suhu. Contoh SAE 10, SAE 20.
- Multigrade. Oli ini memiliki tingkat kekentalan ganda/bervariasi tergantung suhu. Pada suhu dingin oli ini akan encer dan pada suhu tinggi akan kental. Contoh SAE 10W 40, SAE 20W 50. "W" adlh singkatan dari winter. Berbeda dg standar2 yang lain, oli yang encer blm tentu lebih bagus drpd oli yang kental dan sebaliknya. Dg kata lain blm tentu SAE 10W 40 lebih baik drpd SAE 20W 50, begitu juga sebaliknya. Tergantung dari persyaratan yang diminta oleh masing-masing pabrikan untuk tiap produknya.
Untuk bisa memilih oli yang baik untuk kendaraan
kita, hal yang harus diperhatikan adalah:
Spesifikasi oli yang disyaratkan oleh pabrikan. lihat
ke buku manual.
Spesifikasi oli yang tertera di kemasan oli.
Pastikan bahwa oli yang kita pilih memenuhi standar
minimal yang ditetapkan pabrik. Lebih dari itu ya lebih bagus. Sesuaikan dg
budgetnya... hehehe...
Sebagai contoh: oli samping yang paling bagus tentunya yang memiliki kualifikasi API TD, JASO FD, ISO-L-EGD. Kualitas berikutnya (yg dibawahnya) tentu yang berkualifikasi API TC, JASO FC, ISO-L-EGC. Lihat di kemasannya.
Sedangkan untuk oli transmisi, yang paling bagus tentu yang berkualifikasi API SM dan JASO MB. Kualitas berikutnya (yg dibawahnya) tentu yang berkualifikasi API SL dan JASO MA.
Sebagai contoh: oli samping yang paling bagus tentunya yang memiliki kualifikasi API TD, JASO FD, ISO-L-EGD. Kualitas berikutnya (yg dibawahnya) tentu yang berkualifikasi API TC, JASO FC, ISO-L-EGC. Lihat di kemasannya.
Sedangkan untuk oli transmisi, yang paling bagus tentu yang berkualifikasi API SM dan JASO MB. Kualitas berikutnya (yg dibawahnya) tentu yang berkualifikasi API SL dan JASO MA.
Oli dg kualifikasi SL atau JASO MA sudah memenuhi
persyaratan minimal yang ditetapkan oleh pabrik.
Jenis Oli
Minyak pelumas mesin atau yang
lebih dikenal oli mesin memang banyak ragam dan macamnya. Bergantung jenis
penggunaan mesin itu sendiri yang membutuhkan oli yang tepat untuk menambah
atau mengawetkan usia pakai (life time) mesin.
Oli Mineral
Oli mineral terbuat dari oli
berbahan dasar (base oil) yang diambil dari minyak bumi yang telah diolah dan
disempurnakan dan ditambah dengan zat - zat aditif untuk meningkatkan kemampuan
dan fungsinya. Beberapa pakar mesin memberikan saran agar jika telah biasa
menggunakan oli mineral selama bertahun-tahun maka jangan langsung menggantinya
dengan oli sintetis dikarenakan oli sintetis umumnya mengikis deposit (sisa)
yang ditinggalkan oli mineral sehingga deposit tadi terangkat dari tempatnya
dan mengalir ke celah-celah mesin sehingga mengganggu pemakaian mesin.
Oli Sintetis (Sintetik)
Oli Sintetis biasanya
terdiri atas Polyalphaolifins yang
datang dari bagian terbersih dari pemilahan dari oli mineral, yakni gas.
Senyawa ini kemudian dicampur dengan oli mineral. Inilah mengapa oli sintetis
bisa dicampur dengan oli mineral dan sebaliknya. Basis yang paling stabil
adalah polyol-ester (bukan
bahan baju polyester),
yang paling sedikit bereaksi bila dicampur dengan bahan lain. Oli sintetis
cenderung tidak mengandung bahan karbon reaktif, senyawa
yang sangat tidak bagus untuk oli karena cenderung bergabung dengan oksigen
sehingga menghasilkan acid (asam).
Pada dasarnya, oli sintetis didesain untuk menghasilkan kinerja yang lebih
efektif dibandingkan dengan oli mineral.
Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan merupakan salah satu
unsur kandungan oli paling rawan karena berkaitan dengan ketebalan oli atau
seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Kekentalan oli langsung berkaitan
dengan sejauh mana oli berfungsi sebagai pelumas sekaligus pelindung benturan
antar permukaan logam.
Oli harus mengalir ketika suhu
mesin atau temperatur ambient. Mengalir secara cukup agar terjamin
pasokannya ke komponen-komponen yang bergerak. Semakin kental oli, maka lapisan
yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi
kemampuan ekstra menyapu atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi.
Sebaliknya oli yang terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan
oli pada temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen
yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada
temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin
dioperasikan.
Dengan demikian, oli
memiliki grade (derajat) tersendiri yang diatur oleh Society of Automotive Engineers (SAE).
Bila pada kemasan oli tersebut tertera angka SAE 5W-30 berarti oli memiliki
kekentalan 5 pada temperatur dingin di musim dingin (Winter), dan kekentalan 30 pada temperatur 100 derajat
celcius.
Tetapi yang terbaik adalah
mengikuti viskositas sesuai permintaan mesin. Umumnya, mobil sekarang punya
kekentalan lebih rendah dari 5W-30 . Karena mesin belakangan lebih sophisticated
sehingga kerapatan antar komponen makin tipis dan juga banyak celah-celah kecil
yang hanya bisa dilalui oleh oli encer. Tak baik menggunakan oli kental
(20W-50) pada mesin seperti ini karena akan mengganggu debit aliran oli pada
mesin dan butuh semprotan lebih tinggi.
Untuk mesin lebih tua, clearance
bearing lebih besar sehingga mengizinkan pemakaian oli kental untuk menjaga
tekanan oli normal dan menyediakan lapisan film cukup untuk bearing.
Sebagai contoh di bawah ini
adalah tipe Viskositas dan ambien temperatur dalam derajat
Celcius yang biasa digunakan sebagai standar oli di berbagai negara/kawasan.
- 5W-30 untuk cuaca dingin seperti di Swedia
- 10W-30 untuk iklim sedang seperti di kawasan Inggris
- 15W-30 untuk Cuaca panas seperti di kawasan Indonesia
Kualitas
Kualitas oli
disimbolkan oleh API (American Petroleum
Institute). Simbol terakhir SL mulai diperkenalkan 1 Juli 2001. Walau begitu, simbol
makin baru tetap bisa dipakai untuk kategori sebelumnya. Seperti API SJ baik
untuk SH, SG, SF dan seterusnya. Sebaliknya jika mesin kendaraan menuntut SJ
maka tidak bisa menggunakan tipe SH karena mesin tidak akan mendapatkan
proteksi maksimal sebab oli SH didesain untuk mesin yang lebih lama.
Ada dua tipe API, S
(Service) atau bisa juga (S) diartikan Spark-plug ignition (pakai busi) untuk
mobil MPV
atau pikap bermesin bensin. C (Commercial) diaplikasikan pada truk heavy duty
dan mesin diesel. Contohnya kategori C adalah CF, CF-2, CG-4. Bila menggunakan
mesin diesel pastikan memakai kategori yang tepat karena oli mesin diesel
berbeda dengan oli mesin bensin karena karakter diesel yang banyak menghasilkan
kontaminasi jelaga sisa pembakaran lebih tinggi. Oli jenis ini memerlukan
tambahan aditif dispersant dan detergent untuk menjaga oli tetap bersih
Sebagai tambahan, bila oli yang
digunakan sudah tipe sintetik maka tidak perlu lagi diberikan bahan aditif lain
karena justru akan mengurangi kinerja mesin bahkan merusaknya.
API Service Rating
Untuk rating API service, dapat
pula dirunut dari mesin-mesin keluaran lama. Namun, pada saat ini bisa juga
dirunut dari kategori SF mengingat banyaknya kategori yang akan keluar.
API mesin bensin
- SN (Current)
Diperkenalkan pada 2004.
Ditujukan untuk semua jenis mesin bensin yang ada pada saat ini. Oli ini
didesain untuk memberikan resistensi oksidasi yang lebih baik, menjaga
temperatur, perlindungan lebih baik terhadap keausan, dan mengontrol deposit lebih baik.
- SL (Current)
Merupakan kategori
terakhir sampai saat ini. Diperkenalkan pada 1 Juni 2001. Oli ini didesain
untuk menjaga temperatur dan mengontrol deposit lebih baik. Juga bisa
mengonsumsi oli lebih rendah. Beberapa oli ini juga cocok dengan spesifikasi
terakhir ILSAC sebagai Energy Conserving. Untuk
mesin generasi 2004 atau sebelumnya
- SJ (Current) : Diperkenalkan untuk mesin generasi 2001 atau lebih tua
- SH (Obsolete): Untuk mesin generasi 1996 atau sebelumnya
- SG (Obselete): Untuk mesin generasi 1993 atau sebelumnya
- SF (Obsolete): Untuk mesin generasi 1988 atau sebelumnya
API mesin diesel
- CJ-4
Diperkenalkan pada tahun 2006.
Untuk mesin high speed, mesin 4-langkah yang didesain untuk memenuhi standar
emisi tahun 2007. Oli dengan kategori API CJ-4 memiliki kriteria performa lebih
baik daripada yang dimiliki oleh oli-oli dengan kategori API CI-4 dengan CI-4
PLUS, CI-4, CH-4, CG-4 dan CF-4. Oli dengan kategori API CJ-4 juga mampu secara
efektif melumasi mesin-mesin dengan kategori di
bawahnya.
- CI-4
Diperkenalkan sejak 5
September 2002. Untuk mesin high speed, four stroke engines yang didesain untuk
memenuhi standar emisi tahun 2004. Oli CI-4 diformulasikan menjaga durabilitas
mesin dimana
gas buangnya disirkulasi ulang. Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur
0.5%. Bisa dipakai pada oli CD, CE, CF-4, CG-4 dan CH-4.
- CH-4
Diperkenalkan sejak
1998. Untuk mesin high speed, four stroke engines yang didesain untuk memenuhi
standar emisi tahun 1998. . Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur
lebih besar 0.5%. Bisa dipakai pada oli CD, CE, CF-4, dan CG-4.
- CG-4
Diperkenalkan sejak
1995. Untuk mesin kinerja sedang, high speed, four stroke engines. Digunakan
untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur
kurang 0.5%. Cocok untuk standar emisi 1994 Bisa dipakai pada oli CD, CE, dan
CF-4.
- CF-4
Diperkenalkan sejak
1990. Untuk mesin high speed, four stroke engines, naturally aspirated dan mesin
turbocharger. Bisa dipakai pada oli CD, dan CE.
- CF-2
Diperkenalkan sejak 1994. Untuk
mesin kinerja sedang, two stroke engines. Bisa dipakai pada oli CD-II.
- CF
Diperkenalkan sejak 1994. Untuk
mesin off road, indirect injected dan beberapa mesin yang memakai bahan bakar dengan kandungan belerang/sulfur
di atas 0.5%. Bisa mengganti pada oli CD.
Cara Pembuatan Oli
1.
Sebelum memproduksi satu jenis oli, tim
teknis dari PT Federal Karyatama, produsen Federal
Oil meracik dulu formulasi dasarnya. Dalam tahap pengujian yang dimaksud, Federal Oil harus memenuhi syarat teknis
seperti memenuhi standar SAE. Juga memenuhi standard API (American Petroleum Institute) yang ditetapkan berdasarkan uji additive
yang dilakukan produsen pembuat additive di negara asalnya.
2.
Yang tidak kalah penting adalah melakukan
uji friksi agar memenuhi standar JASO (Japanese
Automotive Standards Organization) yang ditetapkan. Untuk bagian uji friksi
pihak PT Federal Karyatama melakukannya di Jepang.
3.
Jika resepnya sudah di tangan, tinggal
dilakukan proses produksi. Material pertama yang harus ada adalah base oil. Untuk Federal Oil, digunakan base
oil terbaik dengan kadar sulfur sangat rendah yaitu kurang dari 0,3 persen.
4.
Langkah lanjutan adalah base oil ini dicampur dengan polimer
untuk mendapatkan nilai SAE lewat proses blending.
SAE adalah klasifikasi oli menurut viskositasnya, seperti 10W-30 atau 20W-40.
Sedikit berbeda, proses blending base oil dan polimer yang dilakukan oleh
PT Federal Karyatama menggunakan tangki berbentuk tabung berukuran besar.
5.
Hal ini dilakukan karena polimer yang
digunakan Federal Oil berbeda dengan
produsen kebanyakan. Setelah itu, oli hasil blanding base oil dan polimer
dicampur dengan additives package. Proses pencampuran ini dilakukan di suhu
yang sangat tinggi. "Kami mengistilahkannya dimasak," kekeh pria
ramah ini.
6.
Setelah matang, oli harus didinginkan
terlebih dahulu sebelum digunakan. Proses selanjutnya yaitu pengemasan.
Cara Kerja Oli Sebagai Pelumas
Sistem pelumasan ialah suatu system pemeliharaan atau
perawatan pada perangkat mesin yang selalu menunjukan masalah-masalah gerak,
gesekan dan panas yang ketiga proses tersebut sangat erat berhubungan dan
memegang peranan penting dalam masalah kestabilan mesin. Apabila ketiga hal
tersebut tidak diperhatikan maka bisa mengakibatkan keausan dan suhu yang
berlebihan menimbulkan pemuian pada bagian yang bergesekan. Oleh karena itu,
pengetahuan yang cukup terhadap masalah pelumasan sangat bermanfaat bagi
perawatan mesin. Minyak pelumas atau yang biasa disebut oli ialah suatu cairan
yang dapat menetralisir , menstabilkan panas yang berlebihan, dan berfungsi
sebagai media penghantar atau penyerap panas, juga sebagai pelicin atau
pelancar gerak.
Sistem pelumasan menggunakan Minyak pelumas , harus
mempunyai persyaratan teknis sebagai mana dapat anda dilihat dibawah :
1. Tahan terhadap panas.
2. Bersih dari zat-zt kimi yang
dapat mengakibatkan korosi pada bagian-
bagian mesin.
3. Licin.
4. Tidak mengakibatkan keausan (
yang disebabkan oleh pencemaran kimiawi
sehingga menimbulkan koroasi yang berakibat keausan.
5. Tidak banyak membebani mesin.
6. Dan untuk daerah tropis yang
mempunyai suhu lebih dari 20° C keatas, pemakaian jenis minyak sistem pelumasa
dengan kode “ SAE-30” merupakan suatu persyaratan teknis, minyak sistem
pelumasan selaian kode tersebut diatas tidak dibenarkan.
Oli diangkat dari carter, oleh suatu sedotan, dari pompa
oli yang digerakkan oleh perputaran roda gerigi yang dikoperlkan dengan perputaran
poros engkol, melalui pipa hisap.
Dari pompa oli, disalurkan melalui pipa pembagi,
kemudian dialirkan ke suatu media pendinginan yang berupa pipa penunjang
melingkar satu setengah ( 1 ½ ) lingkar dnegan dinding bersirip untuk
memperluas permukaan pipa sehingga proses pendinginan lebih lancar dari udara
sekitarnya atau berupa radiator oli atau tanpa kedua sistem pendinginan
tersebut, tergantung dari kapasitas diesel.
Dalam hal yang terakhir ini oli hanya disalurkan ke
dalam pipa yang cukup pendek saja ( y pass). Dari ini kotoran oli yang mungkin
terbawa, baik dari luar maupun sirkulasi di dalam mesin sendiri. sistem
pelumasan pada Rosker Arm dari klep, didapatkan melalui camp shaft, tappel dan
push rod langsung menembus baud pengatur jarak rosker arm ( Rocker Arm Bearing)
kemudian menetes keluar sejenak ditampung bak per klep ; melalui celah antara
push rod dan pipa pelindung push rod, oli mengalir ke bahah menuju ke bak
charter. Untuk pelumasan ada metal-metal dan juga dinding-dinding silinder, oli
disalurkan melalui pipa kapiler yang terdapat dalam dinding charter / crank
case, juga masuk ke dalam pipa yang sejenis dengan crank case.
mengetahui tentang fungsi dan bekerjanya sistem
pelumasan tersebut harus dijaga jangan sampai sistempelumasan terganggu,
gangguan gangguan dalam sistempelumasan dapat terjadi oleh penyebab-penyebab
sebagai berikut :
1. Oli
dari jenis kualitas rendah ( di luar apec) oli palsu oli bekas dan sebagainya
2. Banyak
kotoran membebani oli ( tercampur air, lumpur-lumpur dan lain sebagainya ).
3. Tersumbatnya
saluran pelumasan
4. Rendahnya
tekanan oli
Dengan memperhatikan penyebab-penyebab gangguan
sistempelumasan tersebut dapat diambil tindakan-tindakan pencegahan antara
sebagai berikut:
>>Pemeriksaan oli dan pengawasan terhadap kualitas oli
> >Penggantian oli secara rutine
> >Penggantian filter secara rutine
>> Pemeriksaan saluran pelumasan
>> Memperhatikan tekanan oli.
Prinsip kerja
lainnya yaitu, Oli diangkat dari bak oli (carter)
oleh suatu sedotan, dari pompa oli yang digerakkan oleh perputaran roda gerigi
yang di koperkan dengan perputaran poros engkol, melalui pipa hisap. Dari pompa
oli, disalurkan melalui pipa pembagi, kemudian dialirkan ke suatu media
pendinginan yang berupa pipa penunjang melingkar 1 ½ lingkaran dengan dinding
bersirip untuk memperluas permukaan pipa sehingga proses pendinginan lebih
lancar dari udara sekitarnya atau berupa radiator oli atau tanpa kedua sistem
pendinginan tersebut, tergantung dari kapasitas dieselnya. Dalam hal yang
terakhir ini oli hanya disalurkan ke dalam pipa yang cukup pendek saja (y
pass). Dari ini kotoran oli yang mungkin terbawa, baik dari luar maupun
sirkulasi di dalam mesin sendiri. Sistem Pelumasan pada Rocker Arm dari klep, didapatkan melalui camp shaft, tappel dan push rod langsung menembus baut pengatur
jarak rosker arm (Rocker Arm Bearing)
kemudian menetes keluar sejenak ditampung bak per klep, melalui celah antara
push rod dan pipa pelindung push rod, oli mengalir ke bawah menuju ke bak
charter. Untuk pelumasan ada metal-metal dan juga dinding-dinding silinder, oli
disalurkan melalui pipa kapiler yang terdapat dalam dinding charter (crank case), juga masuk ke dalam pipa
yang sejenis dengan crank case.
Mengapa
Menggunakan Oli
ü Minyak pelumas (oli) merupakan salah satu bagian yang
terpenting dalam mesin piston (motor bakar) atau mesin-mesin dimana terdapat
komponen yang bergerak, seperti shaft, bearing dan gear.
Hal ini karena oli berfungsi sebagai pelumas pada permukaan komponen yang
saling bersentuhan. Dengan adanya pelumas, energi yang terbuang karena gesekan
menjadi minimal dan dengan demikian usia pakai komponen menjadi bertambah.
Fungsi oli yang lain adalah sebagai pendingin dari efek panas yang dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar dan dari gesekan antara komponen.
ü Pada saat mesin bekerja, gesekan terjadi
berulang-ulang antar komponen mesin. Hal inilah yang dapat mengakibatkan
keausan atau kerusakan pada bagian permukaan komponen tersebut. Minyak pelumas
inilah yang kemudian berfungsi membuat permukaan antar komponen menjadi licin, sehingga gesekan
langsung antar komponen mesin tersebut dapat dicegah. Besarnya gesekan bisa
menyebabkan mesin mengalami overheat (kelewat panas) hingga macet atau
menyebabkan kerusakan pada silinder, piston, klep, lahar dan lainnya. Hal itu
pun dapat mengakibatkan ketidakberesan pompa oli, dan kebocoran saluran oli.
ü Salah satu fungsi pelumas adalah mencegah korosi (corrosion
inhibitor). Proses pembakaran normal akan menghasilkan air dan asam dan
ketika mesin telah dingin bisa ditemukan dalam saluran mesin, sehingga pelumas
mesin perlu ditambahkan dengan bahan penghambat korosi yaitu campuran organik
dari fosfor dan belerang yang dapat mencegah kecenderungan pembakaran yang
menyebabkan korosi pada permukaan logam misalnya pada dinding silinder dan
mencegah kerusakan bantalan-bantalan utama khususnya yang dibuat dari paduan
timah-perunggu
ü Sebagai
Pelumasan
Oli mesin melumasi permukaan metal yang bersinggungan
dalam mesin dengan cara membentuk lapisan film. Lapisan film tersebut berfungsi
mencegtah kontak langsung antara permukaan metal dan membatasi keausan.
ü Sebagai
Pendingin
Pembakaran menimbulkan panas dan komponen- komponen
mesin menjadi panas,hal ini menyebabkan keausan yang cepat pada komponen
tersebut dan apabila tidak diturunkan temperaturnya maka mesin akan rusak maka
dari itu sistem pelumasan sangat diperlukan.
ü Sebagai
Perapat
Oli mesin membentuk lapisan antara torak dengan
silinder. Ini berfungsi sebagai perapat (seal) yang dapat mencegah hilangnya
tenaga mesin. Sebaliknya apabila ada kebocoran maka gas campuran yang dikompresikan akan menekan
disekeliling torak dan masuk kedalam bak engkol dan ini berarti akan kehilangan
tenaga.
ü Sebagai
Pembersih
Kotoran akan mengendap dalam komponen mesin seperti
butiran- butiran logam hasil gesekan antara logam yang saling bersinggungan,
ini menambah pergesekan dan menyumbat saluran oli. Oli mesin akan membersihkan
kotoran tersebut untuk mencegah kotoran yang tertimbun didalam mesin.
ü Sebagai
Penyerap Tegangan
Oli mesin menyerap dan menekan tekanan lokal dan ini
bereaksi pada komponen yang dilumasi, serta melindungi agar komponen tersebut
tidak menjadi tajam saat terjadinya gesekan pada bagian yang saling
berhubungan.
Kandungan
Oli
Sebelum memilih oli mesin yang tepat untuk motor kita,
tentunya kita mesti tahu terlebih dahulu fungsi dari oli mesin tersebut. Fungsi
utamanya adalah untuk melapisi permukaan bagian-bagian logam yang besinggungan
atau bergesekan secara langsung pada saat mesin bekerja, sehingga bagian-bagian
tersebut tidak cepat aus karena saling ‘memakan’. Misalnya antar roda gigi
transmisi atau piston dengan cylinder block.
Selain itu oli mesin berfungsi juga sebagai pengusir
panas yang ditimbulkan dari pergesekan tersebut. Oleh karena itulah pada
beberapa motor sport terpasang oil cooler yang tujuannya adalah menjaga oli
tetap dingin sehingga fungsinya sebagai pendingin tetap maksimal. Oli mesin
juga berfungsi mencegah berkaratnya logam-logam di dalam mesin.
Oli mesin dan oli pada umumnya bisa dibuat dari 2 macam
bahan dasar oli (basestock), yaitu dari minyak mentah (mineral oil) atau minyak
sintetik (synthetic oil). Kita akan membahasnya satu-persatu.
1. Mineral
Oil
Minyak mentah yang ditambang dari dalam tanah bisa
berbentuk minyak parafin atau asphaltic. Masing-masing mempunyai kelemahan
terhadap pengaruh suhu. Minyak parafin cenderung menjadi padat pada suhu
rendah, sedangkan asphaltic cenderung menguap pada suhu tinggi. Proses
penyulingan sangat berpengaruh terhadap kualitas basestock yang dihasilkan.
Berdasarkan kualitasnya, basestock dibagi menjadi 6 kategori yang
berbeda, sebut saja kategori 1 sampai dengan kategori 6. Kebanyakan merk oli
mesin yang beredar di pasaran di dibuat dari basestock kategori 2. Dewasa ini
banyak perusahaan oli berlomba-lomba memperbaiki proses penyulingan untuk
menghasilkan basestock yang lebih berkualitas. Jadi, meskipun berbahan minyak
mentah yang sama, masing-masing perusahaan bisa menghasilkan basestock yang
berbeda tergantung pada proses penyulingannya.
2. Synthetic
Oil
Minyak sintetik terbuat dari campuran berbagai macam
molekul hydrocarbon ringan dan molekul berat. Tidaklah sulit bagi seorang ahli
kimia untuk melakukannya. Mereka dapat mendesain campuran (compound) molekul
hydrocarbon sehingga menghasilkan oli dengan kualitas yang sesuai kebutuhan
yang spesifik. Proses pencampuran inilah yang akan menentukan kualitas akhir
dari basestock yang dihasilkan.
Selain itu, ada 2 komponen penting pelumas yakni Base Oil dan
Additive.
Base Oil : Merupakan
bahan dasar pelumas. Base oil bisa dibedakan menjadi dua, yakni mineral oil dan
synthetic oil.
Mineral Oil : Merupakan salah satu dari fraksi Minyak Bumi golongan
medium-berat, dengan specific gravity 0.86– 0.89 pada suhu 30oC
Synthetic Oil : Base oil yang bisa jadi berasal mineral oil yg
diolah lebih lanjut, miyak nabati (vegetables oils), atau bisa juga merupak
hasil sintesa dari gugus Poly Alpha Olefin.
Additive : Bahan
tambahan. Additive bisa berasal dari campuran base oil dengan beberapa tambahan
bahan kimia, bisa juga berupa 100% bahan kimia. Additive dapat di golongkan
dalam beberapa fungsi :
1. Additive pelumas itu
sendiri. Additive ini disebut primary additive, yang memang perannya untuk
membentuk pelumas tsb.
Semisal untuk menaikkan kinematic viscosity, menaikkan density, atau
memang merupakan formula kimia untuk pembuat pelumas tersebut seperti pencegah
gesekan antar logam pada mesin, mencegah timbulnya kotoran pada mesin,
menetralisir asam, dsb.
Additive pelumas untuk motor 2T akan beda dengan additive untuk
motor 4T, beda juga dengan untuk pelumas Gear, dsb.
2. Pewarna pelumas.
Termasuk secondary additive. Berfungsi memberi warna pelumas. Biasanya hanya
digunakan dalam jumlah kecil dalam tiap takaran batch produksi.
3. Pengharum pelumas.
Sama dengan pewarna, hanya digunakan sejumlah kecil.


Komentar
Posting Komentar